Waktu Pendidikan yang berlaku

Posted on December 17, 2015 By

pengertian-pendidikan

Oleh: Devi yulianti Wafiah

Besarnya pengaruh waktu terhadap tingkat konsentrasi masih sering kali jadi perdebatan, besarnya pengaruh waktu 18.00 – 21.00 dari pada 07.00 – 15.00  selalu menjadi perhatian banyak pihak, terutama orang tua. Artinya, pengaruh pada waktu menerima mata pelajaran disekolah relatif kecil dan kalah pengaruhnya jika dibandingkan dengan pada saat setelah sekolah yang lebih sering dipakai untuk menonton televisi. Peran media massa terutama televisi sangat besar dalam mendidik masyarakat, karena tayangan jam 18.00 – 21.00 sering kali menjadi tranding topic di kalangan pelajar dan lebih kuat pengaruhnya ketimbang pelajaran di sekolah apalagi pekerjaan rumah dari sekolah. Seringkali televisi  ikut ambil bagian terbesar dalam memberikan pengaruh terhadap penontonnya bukan pengaruh positif yang muncul, yang ada adalah pengaruh negatif.

Mindset sekolah di tayangan FTV sering kali lebih unggul dan diminati bahkan di jadikan gaya hidup dikalangan pelajar masa kini padahal dalam kenyataannya sekolah tidak mengajarkan demikian bahkan tidak sedikit perilaku tersebut melanggar aturan. Langkah konkrit yang seharusnya dilakukan tentu akan melibatkan orangtua dan keluarga karena pada waktu 18.00 – 21.00 anak lebih memungkinkan untuk ada di rumah dan menjadi tanggung jawab keluarga sepenuhnya, maka peran keluarga harus lebih ditingkatkan baik dari hubungan komunikasi atau pun perhatian yang diberikan harus lebih tercurahkan pada anak. Waktu 18.00 – 21.00 harus dapat lebih dimanfaatkan dalam keluarga dengan agenda keluarga yang lebih tepat dan berguna dibandingkan dengan menonton TV bersama.

Pemberian pendidikan sikap dan perilaku sebagai tambahan pelajaran dapat menjadi alternativ untuk menciptakan generasi berkarakter sesuai harapan dan tuntutan masyarakat. Jika biasanya fase itu hanya digunakan untuk sekadar menonton televisi, sekarang ubahlah menjadi pendidikan yang diisi oleh keluarga. Penanaman nilai – nilai moral, agama, sikap, dan perilaku dapat diajarkan ditengah aktivitas bersama keluarga. Hal ini tentu akan lebih mudah dilakukan karena dengan penyampaian yang santaidi selingi canda tawa keluarga dan tanpa ada program khusus serta sistematis oleh keluarga sendiri tentu akan mebuat pembelajaran akan lebih asik dan tidak terasa membosankan. Selain itu bisa juga dipakai untuk acara berbagi ide sesama anggota keluarga, curhat – curhatan, cerita – cerita orang tua saat masih muda, aktivitasnya serta segudang pengalamannya tentu lebih baik dan lebih bermanfaat karena telah di lakukan secara nyata bahkan memunculkana imajinasi dan kreatifitas yang sangat kecil porsinya di lingungan sekolah.

Sistematisnya pendidikan formal dengan aturan jam dan mata pelajaran yang menghabiskan tingkat intelegensi tanpa menyisakan ruang untuk daya berkreasi dan berinovasi harus diperbaharui, sampai saat ini porsi pendidikan lebih di dominasi oleh otak kanan, pembelajaran logika, nalar dan ilmu pengetahuan lebih dianggap penting dibandingkan penggunaan ide dan kreatifitas  yang terkadang membuat banyak orang menganggap hal itu gila, aneh dan sebagainya yang justru mematikan potensi kekreatifitasan seseorang. Seperti pendidikan otak kanan yang sebenarnya jika lebih dieksplorasi dapat melakukan hal yang jauh luar biasa bermaknanya dari pada otak kiri. Setidaknya dengan pendidikan dengan otak kanan dapat mengimbangi dampak buruk dari menariknya sajian televisi.

Silahkan Like & Share

Pendidikan


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 3 + 4 ?
Please leave these two fields as-is: