Penerapan Pendidikan Karakter

Posted on May 5, 2015 By

08_bigPendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif . Pendidikan karakter dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan yang menjadi nilai dasar budaya dan karakter bangsa. Pendidikan nilai ini mencakup keseluruhan aspek sebagai pengajaran atau bimbingan kepada peserta didik agar menyadari nilai-nilai kebenaran , kebaikan dan keindahan melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan bertindak yang konsisten ( Mulyana : 2004). Nilai-nilai karakter tersebut berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsaIndonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional. Dengan nilai-nilai tersebut diharapkan mampu

mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa; mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius; menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa; mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity). (Kemendiknas:2011)

Pada saat ini implemetasi pendidikan karakter di institusi-intitusi pendidikan dilakukan dengan 3 cara, yaitu kesatu program integrasi, yang beranjak dari pandangan komplementer proses belajar yang dianggap sebagai satu kesatuan yang utuh saling melengkapi. Ketika anak belajar Ilmu Pengetahuan Alam, ia diarahkan pada pertimbangan moral dan etika lingkungan; belajar matematika bukan hanya pandai menggunakan angka, tetapi ia harus mampu berpikir logis tentang masalah-masalah social; begitu juga dengan pelajaran-pelajaan lainnya. Lebih jauh program pengintegrasian ini pemerintah mengembangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK) dan sebagai salah satu bentuk realisasi kebijakan desentralisasi di bidang pendidikan agar kurikulum benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di sekolah yang bersangkutan di masa sekarang dan yang akan datang dengan mempertimbangkan kepentingan lokal , nasional dan tuntutan global dengan semangat Managemen Berbasis Sekolah ( MBS ) maka KBK disempurnakan menjadi Kurikulum Satuan Pendididkan ( KTSP) ( Depenas : 2006 ).

Kurikulum ini bertujuan memadukan domain atau muatan kurikulum dalam diri peserta didik, sehingga kemampuan anak dalam mengembangkan potensi berpikir , perasaan dan tindakan dikembangkan secara seimbang melalui suatu pendekatan terpadu dalam metode maupun evaluasi. Untuk memperlancar tujuan itu pemerintah mewajibkan kepada intitusi-intitusi pendidikan dalam proses pembelajaran supaya mengembangkan pendekatan-pendekatan yang mengacu kepada pengembangan diri siswa. Pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran yang disarankan diantaranya ; pembelajaran Kontekstual ( cotextual teaching and learning ), Cara Belajar Siswa Aktif ( CBSA), Belajar Quantum, Penilaian berbasis Kelas (PBK) yang tercakup dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ). Kedua kegiatan ekstrkurikuler, dalam kegiatan ini , proses pembelajaran nilai secara terpadu sering terjadi karena nilai dikembangkan melalui paket kegiatan yang memungkinkan siswa berinteraksi dengan teman, guru, masyarakat, benda , alat fasilitas, hewan, sistem organisasi, dan lain-lain yang membawa mereka pada kesadaran nilai , moral, etika , estetika, bahkan pada kesadaran nilai-nilai Ilahiyah. Kegiatan ini dikembangkan melalui kegiatan pramuka, pencinta alam, peringantan hari besar Islam (PHBI) dll. Ketiga melalui kurikulum tersembunyi, yaitu kurikulum yang tidak dipersiapkan dan direncanakan biasanya berupa aktifitas aktifitas nyata yang di lihat dan dirasakan oleh peserta didik di sekitar lingkungan dimana ia belajar.

Silahkan Like & Share

Pendidikan


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 3 + 6 ?
Please leave these two fields as-is: