Pendidikan Agama dan Keberagamaan

Posted on December 12, 2015 By

08_big

Oleh : Devi Yulianti Wafiah

Di era zaman global ini dimana pendidilkan banyak di masuki multikulturalisme dan pluralisme, pendidikan agama sedang mendapat tantangan karena ketidakmampuannya dalam membebaskan peserta didik keluar dari eksklusifitas beragama. Wacana kafir – iman, muslim non-muslim, surga – neraka seringkali menjadi bahan pelajaran di kelas yang setiap saat selalu diindoktrinasi. Selalu saja dengan pembicaraan mencari kebenaran berlandaskan agamanya masing – masing, dan beranggapan agama lain lah yang salah.

Pelajaran teologi sering kali dibelajarkan sekedar untuk memperkuat keimanan dan pencapaiannya menuju surga tanpa diikuti dengan kesadaran berdialog dengan agama – agama lain. Kondisi inilah yang menjadikan pendidikan agama sangat eksklusif dan tidak toleran. Padahal di era pluralisme dewasa ini, pendidikan agama mesti melakukan reorientasi filosofis tentang bagaimana membangun pemahaman keberagamaan peserta didik yang lebih inklusif – pluralis, multikultural, humanis, dialogis – persuasif, kontestual, substantif dan aktif sosial. Agar para peserta didik nantinya dapat saling toleransi dan menghargai perbedaan agama di lingkungannya.

Paradigma keberagamaan yang inklusif – pluralis berarti menerima pandapat dan pemahaman lain yang memiliki basis ketuhanan dan kemanusiaan. Pemahaman keberagamaan yang multikultural berarti menerima adanya keragaman ekspresi budaya yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan keindahan. Pemahaman yang humanis adalah mengakui pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan  beragama, dimana seorang yang beragama seharusnya  dapat mengimplementasikan nilai – nilai kemanusiaan; menghormati hak asasi orang lain, peduli terhadap orang lain dan berusaha membangun perdamaian bagi seluruih umat manusia, untuk menciptakan kehidupan yang harmonis tanpa perpecahan dan perbedaan ideologi.

Paradigma dialogis – persuasif lebih mengedepankan dialog dan cara – cara damai dalam melihat perselisihan dan perbedaan pemahaman keagamaan dari pada melakukan tindakan-tindakan fisik seperti teror, perang, dan bentuk kekerasan lainnya. Paradigma kontekstual berarti menerapkan cara berfikir kritis dalam memahami teks – teks keagamaan. Paradigma keagamaan yang substantif berarti lebih mementingkan dan menerapkan nilai-nilai agama dari pada hanya melihat dan mengagungkan simbol – simbol keagamaan. Sedangkan peradigma pemahaman keagmaan aktif sosial berati agama tidak hanya menjadi alat pemenuhan kebutuhan rohani secara pribadi saja. Akan tetapi yang terpenting adalah membangun kebersamaan dan solidaritas bagi seluruh manusia melalui aksi – aksi sosial yang nyata yang dapat meningkatkan kesejahteraan umat manusia.

Dengan membangun paradigma pemahaman keberagamaan yang lebih humanis, pluralis, dan kontekstual diharapkan nilai – nilai universal yang ada dalam agama sepeti kebenaran, keadilan, kemanusiaaan, perdamaian dan kesejahteraan umat manusia dapat ditegakkan. Lebih khusus lagi, agar kerukunan dan kedamaian antar umat bergama dapat terbangun.

Hubungan dengan lembaga pendidikan bahwa guru dan sekolah memegang peranan penting dalam mengimplementasikan nilai – nilai kebergamaan yang inkluisf di sekolah. apabila guru mempunyai paradigma pemahaman keberagamaan yang inkluisf, maka dia juga akan mampu mengajarkan dan mengimplementasikan nilai – nilai keberagamaan tersebut pada siswa di sekolah.

Inti dari ajaran agama adalah menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, maka segala bentuk kekerasan yangb sering dikaitkan dengan atas nama jihad bagi sebagian agama tertentu adalah sesuatu yang dilarang oleh agama. Pentingnya pemahaman menyeluruh soal agama dan kehidupan seeharusnya dapat menjadi jalan berdialog dan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan keragaman budaya, etnis, dan agama (aliran).

Agar pemahaman pluralisme dan toleransi dapat tertanam dengan baik pada peserta didik, maka perlu ditambahkan bagaimana kehidupan masyarakat zaman dahulu uraian tentang proses pembangunan masyarakat Madinah yang dapat ditelusuri dari Piagam Madinah. Sebagai salah satu produk sejarah umat Islam, piagam Madinah merupakan bukti bahwa Nabi Muhammad berhasil memberlakukan nilai – nilai keadilan, prinsip kesetaraan, penegakan hukum, jaminan kesejahteraan bagi semua warga serta perlindungan terhadap kelompok minoritas. Bila dicermati, bunyi naskah konstitusi ini sangat menarik. Ia memuat pokok-pokok pikiran yang dari sudut tinjauan modern pun mengagumkan. Dalam konstitusi itulah pertama kalinya dirumuskan ide-ide yang kini menjadi pandangan hidup modern di dunia, seperti kebebasan beragama, hak setiap kelompok untuk mengatur hidup sesuai dengan keyakinannya, kemerdekaan hubungan ekonomi antar golongan dan lain – lain.

Silahkan Like & Share

Pendidikan


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 11 + 3 ?
Please leave these two fields as-is: