Paradigma Pendidikan

Posted on November 9, 2015 By

pendidikan otak kanan

Oleh: Devi Yulianti Wafiah

Selama tiga dasawarsa terakhir, dunia pendidikan Indonesia secara kuantitatif telah berkembang sangat cepat. Jumlah sekolahan jauh meningkat pesat bahkan memasuki pedalaman dan daerah – daerah kecil. Sudah barang tentu perkembangan pendidikan tersebut patut disyukuri. Namun sayangnya, perkembangan pendidikan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan yang sepadan. Akibatnya, muncul berbagai ketimpangan pendidikan di tengah – tengah masyarakat, termasuk yang sangat terlihat adalah: ketimpangan antara kualitas output pendidikan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan, dan ketimpangan kualitas pendidikan antar desa dan kota, antar Jawa dan luar Jawa, antar penduduk kaya dan penduduk miskin.

Problem pendidikan sampai saat ini tidak terlepas dari masalah pendidikan cenderung menjadi sarana stratifikasi sosial. Selain itu masalah pendidikan sistem persekolahan hanya mentransfer kepada peserta didik pengetahuan yang terlalu bersifat text-bookish sesuai dengan teksnya tanpa ada pembuktian dalam kehidupan sehari – hari, sehingga bagaikan sudah diceraikan baik dari akar sumbernya maupun aplikasinya.

Berbagai upaya pembaharuan pendidikan telah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi sejauh ini belum menampakkan hasilnya. Mengapa kebijakan pembaharuan pendidikan dapat dikatakan senantiasa gagal menjawab problem masyarakat? Sesungguhnya kegagalan pelbagai bentuk pembaharuan pendidikan bukan semata – mata terletak pada bentuk pembaharuan pendidikannya sendiri melainkan lebih mendasar lagi kegagalan tersebut dikarenakan ketergantungan penentu kebijakan pendidikan pada penjelasan paradigma peranan pendidikan dalam perubahan sosial yang sudah usang. Ketergantungan ini menyebabkan adanya harapan – harapan yang tidak realistis dan tidak tepat terhadap pendidikan.

Berkaitan dengan peranan pendidikan dalam pembangunan nasional muncul dua paradigma yang menjadi kiblat bagi pengambil kebijakan dalam pengembangan kebijakan pendidikan: Paradigma Fungsional dan paradigma Sosialisasi. Paradigma fungsional melihat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan dikarenakan masyarakat tidak mempunyai cukup penduduk yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan sikap modern. Menurut pengalaman masyarakat di Barat, lembaga pendidikan formal sistem persekolahan merupakan lembaga utama mengembangkan pengetahuan, melatih kemampuan dan keahlian, dan menanamkan sikap modern para individu yang diperlukan dalam proses pembangunan. Bukti-bukti menunjukkan adanya kaitan yang erat antara pendidikan formal seseorang dan partisipasinya dalam pembangunan.

Penjelasan paradigma peranan pendidikan dalam pembangunan yang diikuti oleh para penentu kebijakan kita dewasa ini memiliki kelemahan, baik teoritis maupun metodologis. Pendidikan tidak dapat diketemukan secara tepat dan pasti bagaimana proses pendidikan menyumbang pada peningkatan kemampuan individu. Memang secara mudah dapat dikatakan bahwa pendidikan formal akan mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki sistem teknologi produksi yang semakin kompleks. Tetapi, dalam kenyataannya, kemampuan teknologis yang diterima dari lembaga pendidikan formal tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada. Di samping itu, adanya perubahan di bidang teknologi yang cepat, justru melahirkan apa yang disebut dengan de-skilled process, yakni dunia industri memerlukan tenaga kerja dengan keahlian yang lebih sederhana dengan jumlah tenaga kerja yang lebih sedikit.

Jika kita perhatikan memang banyak sekali kelemahan yang masih ada dalam lingkup pendidikan kita, perlu adanya pebaharuan yang meliputi semua aspek pada semua lingkup masyarakat yang Dapat berkonstribusi dalam dunia pendidikan.

Silahkan Like & Share

Pendidikan


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 8 + 7 ?
Please leave these two fields as-is: