otak kann melengkapi otak kiri dalam belajar

Posted on May 22, 2015 By

Apa yang kita rasakan saat kita belajar atau menghafalkan sesuatu? Sebagian kita mungkin menjawab capek, melelahkan, berat, dan malas, apalagi kalau banyak yang harus dihafalkannya, ditambah lagi kalau ada sesuatu yang sudah hafal sebelumnya, pada saatnya kita mengingat kembali, malah lupa. Menjengkelkan sekali bukan? Kesulitan menghafal terjadi karena saat kita menghafalkan sesuatu, kita tidak “melihatnya” dalam pikiran kita atau dengan kata lain tidak dapat membayangkannya secara visual dalam pikiran. Secara lebih ilmiah, kalau kita pelajari tentang cara kerja otak yang terbagi atas dua belahan, yakni otak kiri dan otak kanan. Keduanya bekerja secara dinamis dan seimbang antara yang kiri dan yang kanan, sebagaimana dinamisnya kedua tangan kita, kedua kaki kita, kedua mata kita saat melakukan fungsinya masing-masing.

OTAK KIRI OTAK KANAN
Akademis Kreatif
Logika Irama
Kata-kata Musik
Angka Gambar
Matematis Imajinasi
Berpikir urutan Konseptual
Rutinitas / pengulangan Acak
Detail Intuisi
Terorganisasi Menyeluruh
STM LTM

Ketidakseimbangan beban pekerjaan salah satu organ tubuh kita meneyebabkan tidak optimalnya fungsi organ tersebut. Misalnya. Ketika kita hanya menggunakan sebelah kaki saat berjalan, Anda bisa membayangkan sendiri apa yang akan Anda rasakan. Jika mata yang Anda gunakan untuk melihat hanya  sebelah yang dipakai, misalnya kiri saja dan mata kanannya ditutup, bisa dibayangkan betapa pegalnya mata kiri Anda. Maka secara otomatis dan dengan memaksa mata kanan Anda akan minta dibuka untuk menyeimbangkanbeban kerja mata kiri yang pegal tadi.

Kedua belahan otak kiri dan kanan kita juga demikian keduanya bekerja secara dinamis dan seimbang, ketika beban kerja otak kiri terlalu berat, maka otak kanan akan menyeimbangkannya secara otomatis. Contohnya, ketika sedang belajar, kita atau anak kita umumnya menangkap materi yang disampaikan dengan otak kiri. Guru atau pengajar pun umumnya menyampaikan materi yang bernuansa otak kiri, dengan ceramah yang panjang lebar, tulisan panjang yang tidak diselingi gambar, suasana pembelajaran yang serius, datar, dan monoton, tanpa selingan yang menghibur. Maka, seolah-olah semua materi yang ada adalah materi yang dikonsumsi oleh otak kiri, sedang otak kanannya diam. Karenanya, untuk mengimbangi otak kiri yang berat, otak kanan akan secara alamiah menyeimbangkannya dengan melamun.

dengan gambaran ini, dapat dipahami bahwa ternyata aktifitas “melamun” saat belajar itu sangat baik bagi otak kita dan disarankan untuk dilakukan. Karena jika tidak, maka otak kiri akan kelelahan, capek, berat menerima beban yang terlalu banyak, akhirnya pikiran jadi pusing tidak konsentrasi dan stres. Saat melamun, otak kiri akan merasa segar dan kembali nyaman sehingga bebannya menjadi lebih ringan.

Jika diringkas, pada intinya dapat kita pahami bahwa ketika kita belajar ataupun mengahafal umumnya kita hanya menggunakan beahan otak kiri saja dan membiarkan otak kanan tidak ikut serta dalam proses belajar atu menghafal itu. Akibatnya, aktifitas belajar atau menghafal menjadi pekerjaan yang berat dan tidak menyenangkan. Sebaliknya. Belajar menyenangkan harus seperti saat membaca komik, menonton film atau main games, karena pada saat itu kedua belahan otak digunakan seluruhnya. Otak kiri menangkap materi intinya, sedangkan otak kanan akan dapat membayangkan visualisasi dari materi tersebut, sehingga seolah-olah melihat materi tersebut dengan jelas.

Silahkan Like & Share

Pendidikan


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 4 + 11 ?
Please leave these two fields as-is: