Kemampuan Memahami Hewan

Posted on July 1, 2015 By

Oleh: Devi Yulianti Wafiah

Mungkin anda sudah sangat mengetahui bahwa kita dilahirkan dengan suatu budaya yang menekankan perbedaan antara kita sebagai golongan manusia dengan hewan, pengalaman kita yang sebenarnya menyatakan hal yang berbeda. Kita hanya merasa nyaman mengonsumsi hewan apabila kita mengeluarkan mereka dari kategori yang kita pergunakan misalnya sebagai bahan pakaian, sebagai kebutuhan pokok, pengobatan dan lain ssebagianya. untuk mendefinisikan diri kita sendiri terkadang kita jauh lebih menguasai kemampuan kita sendiri jauh menyombongkan diri sendiri, padahal perbedaan kita dengan hewan jauh lebih kecil daripada apa yang dipaksakan oleh kebiasaan makan oleh kebiasaan berpakaian bahkan unngkin kita juga adalah hewan, hewan yang berakal.

Mereka yang memiliki hewan pendamping atau peliharaan, tanpa ragu mengetahui bahwa hewan-hewan itu memiliki kepribadian, kesukaan, emosi, dan dorongan yang berbeda dalam diri hewan tersebut, dan bahwa mereka merasakan dan menghindari kesakitan psikologis maupun fisik sama saja dengan manusia.

Mungkin anda pernah mendengar tentang penelitian yang dilakukan pada sekelompok kera. Para peneliti menemukan bahwa kera-kera itu lebih memilih lapar daripada menakuti kera-kera lainnya, terutama jika mereka sendiri telah menerima kejutan itu sebelumnya. Jika anda membaca penelitian ini mungkin anda akan terharu bahkan malu oleh sifat kera-kera itu yang lebih mengutamakan kepentingan orang lain. Meskipun itu adalah sifat sejati kita sebagai seorang manusia, atau mungkin anda akan bertanya pada diri sendiri apakah kita manusia akan sedemikian mulia.

Selain memiliki kemampuan untuk berempati, hewan juga memiliki kemampuan untuk menderita secara psikologis, sering kali hewan memperlihatkan tingkah laku stereotip saat hewan itu terpaksa mengalami siksaan mental akibat perlakuan kita. Pengurungan berlebihan terhadap hewan, untuk makanan, bulu, penelitian, dan hiburan menyebabkan penderitaan yang sangat mendalam terhadap kesehatan emosi dan fisik mereka sehingga mereka mengulangi tingkah laku yang sama secara terus menerus, menjadi gila karena kemustahilan untuk memenuhi tujuan alamiah kita sebagai manusia. Seperti halnya hewan-hewan ini, kita manusia juga mungkin akan mengulangi tingkah laku menjadi gila dan kehilangan hubungan dengan tujuan yang harus kita penuhi.

Bagaimana ide yang telah kita nyatakan yang membuat kita unik, yang membuat kita lebih menyombongkan diri, ang membuat kita berbeda seperti penggunaan alat-alat, karya seni, emosi, menggunakan bahasa dan sebagainya, pada kenyataannya semuanya menjadi runtuh begitu kita mengenal hewan secara lebih baik.

Tentu saja, kita memiliki pemikiran dan kemampuan unik tertentu. Setiap spesies memiliki kemampuan unik tertentu. Mengonsumsi hewan tanpa sadar membuat kita sangat gelisah sehingga secara neurotik kita terlalu menekankan keunikan dan keterpisahan kita dari mereka. Ini membuat kita mengeluarkan mereka dari lingkaran kepedulian kita. Dan berteman dengan mereka para hewan, menghabiskan waktu bersama membuat kita akan memahami  ereka baik kepribdian dan kemampuannya.

Hal ini yang ditunjukan oleh Rosululloh SAW dari semenjak kecil beliau mengembalakan hewan ternak menurut cerita disebutlah kambing. Bagaimana kemampuan rosul mengembala? Subhanalloh bukan? Bahkan karena mengebala ini lah ia dapat mengasah seluruh kemampuan yang ia miliki. Bagaimana tidak dengan memahami hewan dari mulai kebiasaan, tingkah stereotif, pola makan, system pencernaannya, emosi, kejiwaan, karakter, penyakit dan fisiknya jelas membuat rosul mengasah seluruh kemampuannya. Tentu hal ini bukan meruakan perilaku yang sangat sederhana. Kemampuan mengolah emosi yang paling utama di butuhkan karena emosi hewan tidaklah menentu sehingga pengendalian emosi sangatlah dibutuhkan. Kemampuan intelektual pun penting sekali di pertajam kemampuan kita memahami system pencernaan hewan, system kebutuhan hewan, pola makan hewan perlu diperhatikan. Tak jarang disaat hewan sakit kita harus berpikir cepat bagaimana cara menyembuhkannya tentu hal ini memaksa otak kita mencari informasi leih cepat karena jika terlambat ngkin saja hewan tersebut terlebih dahulu meninggal.jika telah begini siapa yang dapat mengembalikan? Disinilah peran kedekatan kita dengan tuhan yang kita yakini. Kemampuan spiritual kita sangatlah dibutuhkan ahar kita tetap  tawadlu dan tawakal menghadapi semua yang ada.

Namun, apa yang terjadi pada kita? Masih diragukan untuk menentukan apakah kehidupan kita sebagai manusia telah meningkat selama berabad-abad dan ribuan tahun? karena semua upaya kita yang berani. Walaupun kita mendapatkan kenyamanan dan kemungkinan yang tidak dapat diimpikan oleh nenek moyang kita, kita juga mengalami stres, penyakit, frustrasi yang tidak bisa mereka bayangkan. Namun, bagi hewan? situasi jelas memburuk, terutama pada generasi manusia sekarang ini. Suatu bentuk ekstrem baru dari pabrik peternakan sekarang muncul melalui rekayasa genetika, di mana hewan tersebut dirusak pada tingkat gen, sehingga kehilangan identitas dan integritas biologis mereka.

Nampaknya kita masih begitu ketinggalan sebagai sebuah budaya kesadaran, mengharuskan kita menerapkan orientasi yang saksama secara radikal yang menunjukkan akar dari mentalitas dan kemampuan kita. Meskipun ini mungkin tampak ekstrem terhadap arus kebudayaan utama kita untuk memihak pada revolusi yang sama sekali menolak menjadikan hewan sebagai benda. Faktanya, veganisme tidaklah ekstrem jika ditinjau dari sudut pandang sifat bawaan kita yang halus, yang mendambakan kasih, kreativitas, dan evolusi spiritual.

Surga dan neraka adalah hasil dari apa yang kita tabur. Kita hidup di dalam sebuah budaya yang secara tanpa berpikir panjang mengeksploitasi hewan atau melindungi hewan. Kebudayaan ini secara alamiah telah menciptakan alat politik, ekonomi, legal, agama, pendidikan dan institusional lainnya untuk melindungi mereka yang berkuasa dari efek akibat tindakan mereka. Salah satu dari manifestasi itu adalah penolakan untuk mengakui gagasan bahwa kita sebagai kesadaran mungkin mengalami banyak dimensi dan kehidupan, dan terutama gagasan bahwa manusia dapat terlahirkan kembali sebagai hewan. Hingga kita melihat dari tingkat tertinggi, kita sebaiknya mengindahkan nasihat dari setiap guru spiritual tercerahkan dari setiap zaman: berbuat baiklah terhadap satu sama lain. 

Silahkan Like & Share

Pendidikan


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 9 + 2 ?
Please leave these two fields as-is: